Bermusik Sebagai Pilihan Hidup

Dengan begitu banyaknya pilihan di sekitar kita, tentunya kita membutuhkan banyak pertimbangan dalam menentukan apa yang terbaik bagi kita, pilihan mana yang paling cocok untuk kita jalani, termasuk pekerjaan apa yang paling bisa bermanfaat bagi kita. Tidak terkecuali pekerjaan di bidang musik, yang tidak hanya terbatas pada profesi sebagai musisi. Mungkin masih banyak dari antara kita yang belum menyadari bahwa profesi di bidang musik masih menyimpan begitu banyak peluang yang jarang diambil oleh orang-orang.

Namun sebelum ngobrolin lebih detil tentang itu, kita akan batesin obrolan seputar profesi sebagai musisi, sebagai pelaku musik itu sendiri. Kenapa begitu? Ya, tentu saja kita harus membahas kegiatan bermusik itu sebagai dasar dari pekerjaan-pekerjaan lainnya di dalam industri yang bernama MUSIK ini. Industri di sini bukan berarti melulu membicarakan produksi musik untuk mencapai keuntungan material dan finansial belaka. Industri di sini berarti bahwa untuk mengembangkan suatu kehidupan dalam bidang musik haruslah dipahami dulu bahwa kenikmatan mengalami musik (termasuk bermain musik, membuat musik, juga mendengarkan musik) harus berjalan dengan baik seperti roda-roda gigi dalam suatu mesin SUPAYA semua orang yang terlibat di dalamnya – musisi maupun pendengar musik, produser dan penjual alat-alat dan CD musik – bisa mendapatkan manfaat dari kegiatan bermusik yang berlangsung di dalamnya. Kecintaan akan musik harus terlebih dahulu dimiliki oleh semua pihak tersebut, supaya pada akhirnya semuanya bisa merasakan kenikmatan dari musik itu sendiri.

Dengan kecintaan itu maka semuanya akan memberi kontribusi dari apa yang bisa dilakukan menurut porsinya masing-masing demi memajukan kehidupan musik itu bersama-sama.

Sesuai pengalaman gw sendiri dan pengalaman musisi-musisi yang gw jumpai hingga kini, ada satu poin penting yang bisa kita petik sebagai pelajaran berharga. Alasan yang mendasari kita melakukan sesuatu haruslah berupa rasa cinta. Dengan rasa cinta, maka kita akan bisa melakukan hal-hal yang mungkin tidak mudah untuk mencapai tujuan itu. Ibaratnya gini, kalo elo lagi naksir sama seseorang, maka untuk bisa deket sama dia aja maka kita akan berusaha melakukan hal-hal yang terbaik yang bisa kita lakukan, bukan? Anak kecil aja misalnya, kalo diiming-imingi dibeliin mainan akan rela menahan keinginannya yang macem-macem itu untuk berkonsentrasi belajar supaya naik kelas atau apapun yang diharapkan oleh orangtuanya. Nah, apalagi untuk musik, jika kita memang mencintainya, maka kita bersedia menghabiskan waktu untuk berlatih, nabung uang jajan untuk bisa beli album atau nonton konser musisi favorit kita, bahkan semua itu ngga akan terasa sebagai suatu beban karena kita mencintainya.

Nah, itu dia yang sering dilupakan oleh banyak orang, terutama mungkin beberapa dari kita yang telah bertekad untuk hidup dengan profesi sebagai musisi. Waktu yang terus berlalu membuat kita jadi lebih berfokus pada bagaimana menyambung hidup dengan musik kita, bagaimana mencari keuntungan material melalui kegiatan bermusik. Semua ini tidak ada yang keliru, bahkan kalau memang kita bisa mencukupi nafkah dengan bermusik, itu adalah hal yang sangat positif. Namun jangan sampai kita menutup mata dari tujuan dari bermusik itu sendiri, yaitu untuk BERBAGI. Dengan bermusik, sesungguhnya kita membagikan sesuatu yang ada di dalam diri kita kepada orang-orang lain di sekitar kita. Mungkin pada kenyataannya musik yang kita bagikan akan bisa dinikmati oleh sekelompok orang yang jumlahnya berbeda dengan yang menikmati musik yang dimainkan oleh orang lain atau grup lainnya. Namun sekali lagi, kompetisi dalam bermusik bukanlah berdasarkan jumlah. Buat gw, seharusnya kompetisi dalam bermusik sesungguhnya adalah pada seberapa besar dedikasi seorang musisi akan musik yang ia cintai tersebut, seberapa besar dedikasinya dalam membagikan musiknya kepada orang-orang lain bila dibandingkan dengan musisi-musisi lainnya. Dengan berlomba-lomba seperti ini maka akan semakin tumbuh ke arah yang makin positiflah kehidupan musik manusia.

Atas dasar pemikiran itulah maka kita bisa mengamati bahwa makin banyak komunitas musik bermunculan di berbagai daerah di sekitar kita. Dan di sini gw akan berani untuk bilang bahwa jenis musik bukanlah sesuatu yang perlu dipersoalkan. Jenis musik apapun akan terus berkembang, atau tepatnya, dikembangkan oleh para pecintanya sesuai dengan dedikasi mereka masing-masing. Membandingkan jenis-jenis musik mana yang lebih unggul dari yang lain adalah suatu kebodohan, sama seperti membandingkan warna manakah dari warna-warna pelangi yang paling indah. Justru dengan makin beragamnya jenis musik yang bisa kita nikmati, maka makin indahlah hidup kita, seperti makin beragamnya warna pada pelangi akan membuatnya makin indah, bukan?

Karena itu, nikmatilah musik, bagikanlah musik, mainkanlah musik, bukan sekadar instrumen musikmu saja, bukan sekadar jenis musik yang sering lo dengerin saja, dan bukan sekadar seberapa besar kocek yang bisa dihasilkan dari permainan musikmu saja. Hidup adalah untuk BERBAGI!

Andreas Arianto

*terbit pada Musikini edisi kedua, bulan Juni/Juli 2010

Perihal andreasarianto
I'm a musician with a point of view, that artists should play their part to help improve the society he or she is involved in. This is just one of the ways to realize my vision in life. --- Andreas Arianto Yanuar belajar Komposisi Musik di Universitas Pelita Harapan Conservatory of Music, lulus pada 2007 dan kemudian mengajar kelas-kelas Ensembel Big Band, Orkestrasi dan Sejarah Musik di konservatori tersebut setelahnya. Pada 2009 ia menjadi penata musik dan konduktor Andreas Arianto Orchestra dalam tur konser bersama band rock terbesar di Indonesia, SLANK, ke 6 kota di Pulau Jawa. Ia juga menulis aransemen musik untuk Twilite Youth Orchestra, St. Theresia School Orchestra, Al Izhar Community Choir and Orchestra, Twilite Orchestra, dan 426 Big Band. Pada 2009 Jakarta Arts Council memesan 28 komposisi baru untuk Kompetisi Musisi Muda Nasional 2010. Di tahun yang sama Andreas tampil dengan grupnya, Andre Harihandoyo and Sonic People, di Mosaic Music Festival di Esplanade, Singapura, di mana ia bermain klarinet, akordeon dan kibor. Band ini juga tampil mewakili Indonesia pada Austronesian Culture Festival di Taitung, Taiwan pada November 2010, di luar penampilan mereka tiap tahunnya di Java Jazz International Festival sejak 2009. Di awal tahun 2011 kemarin Andreas dan rekan-rekan komponis muda Indonesia lainnya, dikenal dengan nama grupnya The Circle, diminta oleh Salihara Arts Center untuk mementaskan karya-karya terbarunya. Andreas juga baru saja menulis aransemen orkestra terbarunya untuk lagu tradisional, dipesan oleh Addie MS untuk musik dalam penerbangan Garuda Indonesia yang juga akan diedarkan secara luas dalam album “The Sounds of Indonesia”, dengan permainan City of Prague Philharmonic Orchestra dalam rekamannya. Dalam rangka memberi kembali ke masyarakat, Andreas mengajar ensembel orkestra di komunitas GKI Gading Indah di mana ia telah melayani selama 4 tahun sebagai Pengarah Musik gereja tersebut, dan bersama orkestr tersebut telah menampilkan 3 konser untuk umum sejak 2007. Musik dipenuhi oleh banyak sekali not yang berbeda, aneka bunyi dan warna-warni yang bisa membentuk berbagai jenis suasana. Itulah sebabnya musik adalah symbol yang sempurna bagi kehidupan, yang juga terdiri dari begitu banyak perbedaan di dalamnya. Bersama Al Izhar Community Choir and Orchestra, Andreas telah bepergian ke berbagai kota di Indonesia seperti Manado, Aceh dan Bali tak hanya untuk bermain musik, tapi juga memberikan klinik, juga untuk mempromosikan keselarasan di dalam pluralitas kepada anak-anak muda Indonesia generasi selanjutnya

11 Tanggapan untuk Bermusik Sebagai Pilihan Hidup

  1. Talita Sakuntala mengatakan:

    stuju kak! That’s the reason for me too to have music jadi pilihan hidup. Caiio musisi Indonesia :)

  2. Talita Sakuntala mengatakan:

    not good. .haha.
    agak2nya akan kembali ke jakarta, dan kembali bermusik di amadeus. Nantikan saya di capella lagi! Haha. Sayang sih ak bru pulang 22 juli, klo ga ikut audisi AAO dehh

    • andreasarianto mengatakan:

      hehe..audisi AAO diundur jadi 15 Agustus kok, mau ikutan?
      hoo…jadi ada yang mau dibagikan, pengalaman2mu di negeri Tulip sana? pada gila bola gak di sana? hehe..

  3. Talita Sakuntala mengatakan:

    ohh. .diundur? Sure! Nih masih urus skolah musik disini bisa apa enggak, tp klo gabsa brati definitif pulang. Dan ikut audisi AAO. Udah pernah liat reviewnya di youtube klo ga salah, dan cukup tertarik, kak! :)
    Pengalaman bnyk bgt yg bsa dishare nihh. Apalagi dr kehidupan sbg musisi dsni yg tergolong sukses yahh. . :D

    Iyaa pada gila bola. Fanatik parah nihh sm team oranje haha

  4. Talita Sakuntala mengatakan:

    okay. .anyway, daftarnya gimana deh kak? :D

    Yupp2, soon stelah macbook keluar dr bengkel akan aktiv d blog lagi.bagi2 pengalaman :)

  5. Talita Sakuntala mengatakan:

    sipp kak!

  6. Pingback: Mempertanyakan Industri Musik dan Musik Industri « Andreas Arianto's Blog

  7. Pingback: 2010 in review « Andreas Arianto's Blog

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.