Ilusi yang Bernama Nasionalisme

Nonton semifinal secara langsung di Gelora Bung Karno adalah pengalaman yang benar-benar sebisa mungkin dirasakan oleh setiap penduduk Jakarta (dan Indonesia pada umumnya). Kenapa? Bukan sekadar supaya bisa nonton pertandingan-pertandingan yang seru bareng temen-temen, bukan pula sekadar supaya bisa pamer foto-foto dan pamer cerita ke temen-temen lain yang ngga ikut nonton (seperti yang sedang gw lakukan sekarang ini, hehe). Ada satu alasan yang baru bisa gw pahami setelah gw mengalami nonton secara langsung sebuah pertandingan olahraga berskala raksasa seperti yang baru aja tadi gw tonton di sana. Pertandingan sepakbola adalah pertandingan olahraga yang sangat spesial karena tidak ada jenis pertandingan olahraga lainnya yang gelanggangnya bisa menampung segitu besarnya jumlah penonton. Dan jumlah penonton yang mencapai ratusan ribu tentunya menimbulkan efek lainnya berupa amplifikasi akan luapan emosi, termasuk yang diakibatkan oleh aneka atribut, atraksi-atraksi para suporter, juga bahkan pesta kembang api di stadion selama pertandingan berlangsung! Untuk hal yang terakhir disebut ini memang sepertinya cuma ada di negara kita, tapi itu menambah alasan kenapa pengalaman ini benar-benar seperti di luar dunia nyata. Seperti halnya gabungan suara beberapa biola menghasilkan suara ensembel gesek yang sangat bertenaga, gabungan raungan, teriakan dan sorakan para suporter pun menghasilkan ombak suara yang tidak hanya sekadar menggelegar, tapi juga bisa mengisi ruang demi ruang dalam jiwa kita yang memberi identifikasi akan diri kita sendiri dengan penonton lain yang tidak kita kenal namun memiliki kesamaan di saat dan di tempat itu juga. Identitas itu biasa sering kita sebut sebagai nasionalisme.


Nasionalisme inilah yang saat ini sedang menjadi komoditas yang sedang naik daun, senaik-naiknya. Belum pernah dalam masa hidup gw dan kawan-kawan segenerasi gw, di mana kami merasakan bahwa kami memiliki rasa nasionalisme yang amat besar. Padahal liga sepakbola nasional dan internasional telah banyak berlangsung di negeri ini, namun kenapa baru sekarang rasa ini mencapai salah satu puncaknya? Memang benar bahwa prestasi tim nasional kita baru mencapai kembali puncaknya pada pertandingan piala ASEAN tahun ini. Memang benar pula bahwa keberadaan pemain-pemain baru yang sedap dipandang menambah faktor selebritas mereka, dan itu dimulai tahun ini pula. Namun gw yakin bahwa ini semua dimulai dari ricuhnya kasus pengklaiman beberapa produk budaya oleh negara tetangga kita. Ketika kita merasa bahwa kita memiliki musuh yang sama, ketika itulah kita baru bisa merasakan bahwa kita saling membutuhkan dengan sesama kita. Ketika kita merasa bahwa kita sama-sama terancam, di saat itulah kita bersedia untuk saling mendukung dan saling membantu. Itu semua terjadi ketika kita menyadari bahwa kita memiliki tujuan yang sama. Namun begitu tujuan itu pudar, begitu tujuan itu tidak kita sadari kembali keadaannya, maka keadaan pun kembali seperti sediakala. Itu pulalah sebabnya kenapa bangsa ini mudah sekali dijajah, atau lebih tepatnya, membiarkan dirinya dijajah.

(Monumen Perjuangan Rakyat di Balikpapan)

Sampai kini gw masih merasakan yang disebut sebagai etnosentris, segala sesuatunya diukur hanya berdasarkan selera kesukuan kita masing-masing, segala sesuatu diukur berdasarkan standar kelompok kita masing-masing, dan apa yang di luar itu tidak akan kita anggap sebagai sesuatu yang pantas dibela. Seberapa kita mau turut merasa terganggu ketika ada orang yang tidak kita kenal mengalami penderitaan, seberapa kita mau turut merasa harus membela orang yang tidak kita sukai ketika mereka mengalami kesulitan? Ternyata masih ada sudut dalam diri kita masing-masing di mana kita merasa tidak harus melakukan sesuatu bagi orang-orang di luar kelompok kita sendiri. Itulah penyebab dari mudahnya kita dipecah-belah hanya atas dasar ketidakpedulian, yang bahkan dapat dengan mudah dibelokkan menjadi prasangka, untuk kemudian menjadi stereotip akan kelompok-kelompok tertentu, dan akhirnya berbuahkan kebencian akan mereka.

Rasa minder pun masih banyak kita pelihara, minder atas kemajuan bangsa lain, sehingga secara tidak sadar kita selalu memaklumi kekurangan-kekurangan diri kita sendiri yang menyebabkan kita tidak mau mengejar ketertinggalan dari mereka, dan pada gilirannya malah membuat kita menyalahkan pihak lain atas hal-hal yang tidak kita lakukan. Mental pecundang seperti ini terlalu dalam menggerogoti kebanyakan dari kita: menyerahkan bahkan melemparkan tanggung jawab atas kehidupan kita sendiri kepada orang lain. Contoh paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah, lebih mudah bagi kita untuk membuang sampah sembarangan di jalan, melalui jendela mobil, bahkan lebih parah lagi, ke saluran got. Kita melakukan itu dengan entengnya sambil berdalih bahwa sudah ada para petugas kebersihan yang bertugas untuk menjaga kebersihan kota kita. Tanggung jawab untuk menjaga kebersihan ada pada setiap orang. Melalui hal kecil itu saja kita sudah bisa menilik bahwa setiap orang yang untuk membuang sampah aja ngga mau repot, apalagi diberikan tanggung jawab yang lebih besar? Maka dari itu jangan pernah mau percayai orang-orang yang bahkan ngga bisa jaga kebersihan diri dan lingkungannya, apapun yang ia ucapkan untuk mempromosikan diri atau pendapatnya!

(http://www.responsible-law-of-attraction-living.com/taking-responsibility-for-your-choices.html)

Bila hal-hal tersebut masih ada pada kita (ketidakpedulian terhadap diri sendiri, terhadap sesama dan terhadap lingkungan sekitar), maka jangan harap kita bisa melakukan perubahan yang lebih besar dalam hidup kita, dan niscaya kita tidak akan bisa meraih pencapaian yang lebih tinggi dalam kehidupan kita dan lingkungan kita sendiri!

Karenanya, nasionalisme hanyalah suatu ilusi yang membakar semangat kita dan hanya membuat kita membeli produk-produk apapun yang mengatasnamakan cinta negeri, bila kita tidak benar-benar menyadari seberapa jauh kita harusnya bertanggung jawab, setidaknya terhadap diri sendiri. Bila kita tidak mau mengambil peran itu terhadap diri sendiri, maka adalah sebuah omong kosong bila kita menyatakan bahwa kita mencintai negeri ini, sementara di saat yang sama kita terus membuang sampah sembarangan, mudah menyalahkan orang lain, mudah tersinggung, mudah merasa dilecehkan atas dasar gengsi yang kosong dan mudah merasa tersakiti atas dasar solidaritas yang hampa.

Mau mencintai negerimu? Cintailah sesamamu! Mau menghargai jasa para pahlawanmu? Hargailah dulu dirimu sendiri dengan tanggung jawab sekecil apapun yang bisa kau perbuat, lalu hargailah segala perbedaan yang muncul di sekitarmu!

Kembali ke sepakbola: Dengan makin banyaknya prestasi yang dibuktikan dan ditunjukkan oleh tim nasional kita, semoga bisa makin mengobarkan semangat pada seluruh rakyat yang merasa mencintai negerinya ini dalam menunjukkan kapasitasnya sebagai bangsa yang besar pula. Tunjukkan bahwa kita masing-masing memang pantas menjadi bangsa yang juara!

AYO MAJU!!

(Siapa aja yang bakal nonton final 26 Des 2010 di KL dan 29 Des 2010 di Jakarta??)


Perihal andreasarianto
I'm a musician with a point of view, that artists should play their part to help improve the society he or she is involved in. This is just one of the ways to realize my vision in life. --- Andreas Arianto Yanuar belajar Komposisi Musik di Universitas Pelita Harapan Conservatory of Music, lulus pada 2007 dan kemudian mengajar kelas-kelas Ensembel Big Band, Orkestrasi dan Sejarah Musik di konservatori tersebut setelahnya. Pada 2009 ia menjadi penata musik dan konduktor Andreas Arianto Orchestra dalam tur konser bersama band rock terbesar di Indonesia, SLANK, ke 6 kota di Pulau Jawa. Ia juga menulis aransemen musik untuk Twilite Youth Orchestra, St. Theresia School Orchestra, Al Izhar Community Choir and Orchestra, Twilite Orchestra, dan 426 Big Band. Pada 2009 Jakarta Arts Council memesan 28 komposisi baru untuk Kompetisi Musisi Muda Nasional 2010. Di tahun yang sama Andreas tampil dengan grupnya, Andre Harihandoyo and Sonic People, di Mosaic Music Festival di Esplanade, Singapura, di mana ia bermain klarinet, akordeon dan kibor. Band ini juga tampil mewakili Indonesia pada Austronesian Culture Festival di Taitung, Taiwan pada November 2010, di luar penampilan mereka tiap tahunnya di Java Jazz International Festival sejak 2009. Di awal tahun 2011 kemarin Andreas dan rekan-rekan komponis muda Indonesia lainnya, dikenal dengan nama grupnya The Circle, diminta oleh Salihara Arts Center untuk mementaskan karya-karya terbarunya. Andreas juga baru saja menulis aransemen orkestra terbarunya untuk lagu tradisional, dipesan oleh Addie MS untuk musik dalam penerbangan Garuda Indonesia yang juga akan diedarkan secara luas dalam album “The Sounds of Indonesia”, dengan permainan City of Prague Philharmonic Orchestra dalam rekamannya. Dalam rangka memberi kembali ke masyarakat, Andreas mengajar ensembel orkestra di komunitas GKI Gading Indah di mana ia telah melayani selama 4 tahun sebagai Pengarah Musik gereja tersebut, dan bersama orkestr tersebut telah menampilkan 3 konser untuk umum sejak 2007. Musik dipenuhi oleh banyak sekali not yang berbeda, aneka bunyi dan warna-warni yang bisa membentuk berbagai jenis suasana. Itulah sebabnya musik adalah symbol yang sempurna bagi kehidupan, yang juga terdiri dari begitu banyak perbedaan di dalamnya. Bersama Al Izhar Community Choir and Orchestra, Andreas telah bepergian ke berbagai kota di Indonesia seperti Manado, Aceh dan Bali tak hanya untuk bermain musik, tapi juga memberikan klinik, juga untuk mempromosikan keselarasan di dalam pluralitas kepada anak-anak muda Indonesia generasi selanjutnya

11 Tanggapan untuk Ilusi yang Bernama Nasionalisme

  1. Owena Ardra mengatakan:

    panjang banget ko. awalnya males baca. tapi setelah berusaha baca, banyak yang bisa diserap. nasionalisme!. di GI aja ada toko namanya DAMN I LOVE INDONESIA SO MUCH! baru liat kemaren trs lgs berdecak kagum sendiri hahaha.

  2. Andreas Arianto mengatakan:

    ah, masa panjang sih? ada tulisanku yang lainnya yang lebih panjang tapi lebih banyak yang komen, hehe. biasa klo di koran kan tulisannya lebih panjang2 tuh, bikin males baca juga kah? yaa, setidaknya ngga nyesel kan baca panjang2? hehe..

    iya, tapi nasionalisme yang kaya gimana dulu, jangan sampe kita terjebak dengan nasionalisme yang buta, yang bersembunyi di balik alasan kebangsaan untuk menutupi kekurangan kita dalam banyak hal. semoga kita punya nasionalisme yang disertai dengan kebesaran hati untuk mengakui kekurangan dan bersedia terus belajar :)

  3. Owena Ardra mengatakan:

    hahaha iya ga nyesel! amin deh ko, natal taun ini temanya Indonesia dong hehehe

  4. Ade Truna mengatakan:

    Mau mencintai negerimu? Cintailah sesamamu! Mau menghargai jasa para pahlawanmu? Hargailah dulu dirimu sendiri dengan tanggung jawab sekecil apapun yang bisa kau perbuat, lalu hargailah segala perbedaan yang muncul di sekitarmu!

    baiklah :inspiring me:

  5. Kesa mengatakan:

    Nicely said bro.. :)
    Semoga bisa menyentuh jutaan orang Indonesia yang rata-rata nasionalis-di-mulut-saja…

    Mampir2 blog gw bro.. :D

    -Kesa UPINDSKY-

  6. yoshi fe mengatakan:

    nice blog post. tapi ya indonesia gak dapet pialanya :( tapi kita tetep cinta timnas indonesia! en do ne sa dung dung trek!

    • andreasarianto mengatakan:

      iya sayang sekali ya, tapi ya, memang kita harus banyak belajar. Yang penting sekarang makin banyak yang ngeh bahwa sepakbola kita pun perlu banyak berubah dan perlu banyak dukungan penuh dari rakyatnya :) terima kasih atas komennya Yoshi.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.