Desember
4 Januari 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
Desember yg malu-malu
Desember yang tersipu, tersipu oleh pekat usiamu
Desember yang tak ingin tahu apa yang telah berlalu,
juga tak ingin sadari apa yang t’lah terlewati
Desember yang jauh dari megahnya,
jauh dari dinginnya yang pernah menghangatkan jiwa
Desember yang tak sabar untuk berhenti bersinar
Desember yang kian pudar,
kian hambar namun enggan ‘tuk henti bergetar
Desember yang dinanti, namun segera ‘kan terganti
Desember yang terburu,
apa ia menantikan hari yang baru?
Desember tanpa salju, juga tak kelabu,
namun jiwa yang sepi terus mencari bunyi
Bunyi ombak berdesir?
Bocah bernyanyi?
Lonceng berdenting?
Angin yang berpasir?
Bunyi botol bir?
Langkah kaki?
Riuh meja judi?
Atau sekadar sebuah bisik?
Bunyi gesek korek api berpadu siul Dean Martin,
gemeretak yang berkabut jadi kawan dalam sepi
Desember tak perlu kuatir bahwa ia tak punya takdir
Ia tak perlu mampir bila tak harus hadir
Namun Desember tetap berkalbu,
tetap ia tersenyum walau tak semanis madu
Desember yang malas namun tak ingin tergilas,
tak hendak terhempas, pun tatapnya memelas
Desember yang berbunyi,
walau ia sesungguhnya
sunyi..
<b>Andreas Arianto
21/12/11</b>