Belajar Musik Lagi

Selama hari Senin sampai Kamis kemarin gue kembali ke sekolah, tepatnya ke UPH Conservatory of Music untuk ikut masterklas untuk konduktor orkestra bersama 7 peserta lainnya yang berumur dari 18-40 tahun. Prof. Sigmund Thorp dari Norwegia memberi banyak sekali masukan dalam beragam sesi: kelas praktikum dengan solis, dengan duo piano, dengan orkestra, juga beberapa kelas seminar yang membahas teknik, teori, juga filosofi untuk pengembangan diri dan pengembangan visi pribadi kami masing2.

Gue pernah ikut kelas mengaba beberapa tahun lalu dengan Budi Utomo Prabowo tapi waktu itu banyakan bolosnya 😜, sehingga praktis gue lebih banyak belajar lewat praktek langsung kalau ada pentas2 dan latihan bersama Forteboy Music atau lewat nontonin segudang video di Youtube. Akibatnya banyak sekali teknik yang belum gue ketahui atau kuasai dan harus dirombak ulang oleh sang profesor.

Melihat teman-teman peserta lainnya dikoreksi, seperti menonton video di Youtube, mudah sekali untuk merasa bahwa gue udah tau akan ini-itu yang harus dilakukan atau dihindari ketika mengaba. Namun ternyata ketika tiba giliran gue untuk melakukannya, ada banyak sekali kecenderungan tubuh gue untuk melakukan kesalahan-kesalahan serupa, terutama karena pikiran kita harus dibiasakan untuk terus menyadari kecenderungan tubuh dalam melakukan gerakan-gerakan yang kurang efektif dan efisien yang pada saat bersamaan sudah menjadi kebiasaan untuk waktu yang lama.

Prof. Sigmund sering sekali menekankan pentingnya menyadari (being aware) kondisi pikiran dan tubuh di momen saat ini. Kepekaan kita akan hal ini (being in the moment) akan terus membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik, tidak tertinggal di masa lalu ataupun terlalu mengkuatirkan apa yang akan terjadi di masa depan. Dan pemahaman ini sangat bisa diterapkan dalam lini kehidupan apapun, tidak hanya bagi para musisi.

Sangat terasa perbedaan antara mengetahui sesuatu (knowing) dengan melakukannya (actually doing it), namun yang lebih penting lagi dari sekadar melakukan sesuatu adalah kita harus menjadi sesuatu (being, rather than doing). Dan ini selalu ditekankan oleh Prof. Sigmund, bahwa kita adalah “human being”, bukan “human doing”. Apapun instruksi atau tindakan yang kita lakukan sebagai dirigen tidak akan berarti jika kita tidak benar-benar menjadi satu dengan musik yang kita mainkan.

Beliau belajar Zen, Taoisme dan juga Chikung (Chi Gong) dan mengajarkannya ke semua muridnya. Penelitian PhD nya telah membuahkan hasil metode pengajaran yang ia sebut sebagai “The Anatomy of Conducting”, kumpulan dari pengalaman pribadi, pengalaman guru-guru dan koleganya sebagai dirigen dari hasil wawancaranya selama bertahun-tahun.

Ada satu hal lagi yang amat menarik yang beliau sampaikan. Ia selalu memastikan bahwa kami para peserta ini di suatu titik dalam sesi-sesi latihan merasa tidak nyaman. Tidak nyaman berarti bahwa ia berhasil mendorong kami keluar dari zona nyaman masing-masing. Tidak nyaman berarti bahwa ia berhasil memaksa kami untuk mempelajari hal-hal baru. Tidak nyaman berarti kami dipaksa untuk menyadari kecenderungan masing-masing dalam melakukan gerakan-gerakan yang tidak efektif dan tidak efisien.

Kesadaran inilah yang terus digarisbawahi dengan harapan agar masing-masing dari kami akan selalu berusaha menjadi pribadi yang semakin baik lagi sebagai musisi maupun sebagai manusia.

Thx berat Michael Budiman dan UPH CoM yang mengorganisir kegiatan ini, thx berat temen-temen sesama peserta masterklas dan temen-temen musisi orkestra dan pianis-pianis UPH yang kebanyakan baru gue kenal. Semoga kita bisa segera bermusik bareng lagi!

Iklan

Tentang andreasarianto
I'm a musician with a point of view, that artists should play their part to help improve the society he or she is involved in. This is just one of the ways to realize my vision in life. --- Andreas Arianto Yanuar belajar Komposisi Musik di Universitas Pelita Harapan Conservatory of Music, lulus pada 2007 dan kemudian mengajar Ensembel Big Band, Orkestrasi dan Sejarah Musik di konservatori tersebut setelahnya. Pada 2009 ia menjadi penata musik dan konduktor Andreas Arianto Orchestra dalam tur konser bersama SLANK ke 6 kota. Ia juga bermain kibor, akordeon dan klarinet dalam grupnya, Andre Harihandoyo and Sonic People, yang telah menghasilkan 2 album sejak 2009. Pada 2011 ia menulis aransemen orkestra untuk lagu-lagu rakyat untuk album “The Sounds of Indonesia”, dengan Addie MS sebagai konduktor The City of Prague Philharmonic Orchestra dalam rekamannya. Sempat pula melatih orkestra komunitas GKI Gading Indah selama 2007-2011, termasuk menghasilkan 3 konser dan 1 album rekaman. Di jangka waktu yang sama, Andreas aktif pula dalam program pengenalan musik untuk siswa-siswa di Manado, Aceh dan Bali bersama Al Izhar Community Choir and Orchestra dalam rangka turut mempromosikan keselarasan dalam pluralitas Indonesia. Semenjak itu pula ia bercita-cita untuk terus melibatkan masyarakat dalam kehidupan musik dan melibatkan musik dalam kehidupan bermasyarakat melalui kegiatannya sehari-hari. Sejak 2011 ia banyak terlibat dalam penulisan musik untuk berbagai album rekaman, film animasi, konser musik, juga termasuk di antaranya terlibat sebagai arranger dan konduktor musik ilustrasi The Raid 2 yang dirilis Maret 2014 yang lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: