Imlek 2016

 
(http://www.fancyfortunecookies.com/Custom-Fortune-Cookies-s/50.htm)

Emg ya, ga bisa dipungkiri budaya nenek moyang gue adalah budaya yang lumayan menekankan soal materi, makanya nyambung dgn konsep materialisme Karl Marx dan komunisme RRC. 

Tapi di satu sisi materialisme Karl Marx dikulik en dikembangin terus-menerus di Barat, di sisi lain apa orang Cina (juga yg non Cina) juga terus mempertanyakan arti dan makna dari simbol2 di balik titik berat materi di budaya ini? Memang keberadaan manusia itu ada di antara benda-benda, tapi apa iya kita mau terus-menerus terjebak pada penilaian kualitas seseorang hanya dari seberapa banyak materi yang berhasil dia kumpulkan dalam hidupnya?

Agama dan kebudayaan akan selalu penuh dengan simbol dan metafora, namun maknanya selalu butuh untuk terus diperbarui di setiap jaman dengan tantangan yang berbeda. 

Toh, kita hidup hanya sekali di dunia, tanpa satu hal yang bisa kita bawa setelah kita tiada. Kalau kita berharap bahwa anak cucu kitalah yang akan nerusin pencarian dan pengumpulan materi yang kita lakukan, alangkah tersiksanya kita dan mereka.

Bintang, bulan dan matahari sudah ada sebelum manusia muncul. Maka yang paling signifikan yang bisa kita temukan dan wariskan buat generasi selanjutnya pada akhirnya adalah kebahagiaan.

Selamat menikmati hari libur dengan pertanyaan, karena hidup yang patut dipertanyakan adalah hidup yang patut dijalani dan dirayakan­čśŐ

8 Februari 2016

2015

Gue sempet berjanji sama diri gue sendiri minggu lalu setelah ulang tahun gue yang uda memasuki usia cukup genting ini. Janji itu lebih tepat disebut sebagai teguran keras buat diri sendiri sih bentuknya. Isinya adalah: mulai sekarang akhiri setiap hari dengan sedikitnya satu aja langkah ke depan, kalo nggak ya mending tidur lebih awal.

Beberapa tahun belakangan ini memang gue selalu tidur larut. Kadang berguna, tapi lebih seringan nggak. Dan di usia yang udah gak bisa dibilang muda ini gue ga punya kemewahan lagi seperti sebelumnya dalam dua hal ini kalo gue beneran pengen menjalani hidup ke arah yang gue inginkan.

Sejauh ini syarat baru itu udah mulai bisa gue penuhi sendiri, namun malam ini adalah langkah terbesar gue dalam menepati janji itu. Banyak banget langkah bodoh yang terus-menerus gue ambil selama ini. Bukan naif, tapi bodoh, karena walau salah tapi tetep aja gue lakukan lagi dan lagi. Namun aliran energi di semesta gak akan pernah berhenti mencari keseimbangannya, tanpa lelah terus menempatkan gue kembali ke posisi yang seharusnya. Setiap kali gue melenceng dikit, pasti ada sesuatu yang terjadi, apalagi ketika gue ngotot dan nyebrang jauh-jauh.

Memang kebodohan selalu punya harga. Dan gue terlalu bebal untuk mengakui itu sampai saat di mana gue berada sekarang. Takut dan sesal ga ada harganya kalo gue gak belajar-belajar juga untuk bisa naik kelas.

Memang lembaran kalender ini udah seharusnya disobek dan dibuang, ga peduli seberapa gue suka, sebelum gue bisa bener-bener jalani jilid yang namanya kedewasaan, yang sudah seharusnya gue jalani bertahun silam.

Ga ada lagi ruang untuk sesuatu yang bernama pembenaran diri. Mikir!