“Your music is never less or more than you are as a person” – Nadia Boulanger


Look up for Nadia Boulanger on the internet, she was a really amazing woman! After graduating from Paris Conservatoire, she admitted that she didn’t have sufficient talent to be a composer, but yet she was a teacher of a whole generation of 20th century composers and classical music icons.

Among her students are notable composers Aaron Copland, Elliot Carter, Walter Piston (who wrote a handbook on orchestration!), Darius Milhaud, Philip Glass, Astor Piazzolla, even also Lalo Schifrin (who wrote that iconic theme for Mission: Impossible!), Burt Bacharach, Daniel Barenboim and also Quincy Jones.

Now Quincy Jones’ career in the popular music realm spans from the golden era of big band jazz (he worked as an arranger/conductor for Dizzy Gillespie, Sarah Vaughan, even Frank Sinatra), composed for movies and of course we have to mention his works with Michael Jackson before he went on to work with so many great musicians of the younger generation.

Back to Nadia Boulanger. There was a story about George Gershwin applying to study with her during his stay in Paris. Boulanger declined to teach this young man who was already making a name out of his exhaustive list of jazz numbers and jazz-classical crossover compositions. Not also Boulanger, even Maurice Ravel and Arnold Schoenberg also rejected to become his tutors because they could already see that Gershwin already had his own voice in his music!

Fast forward to the 21st century, Quincy Jones once offered to produce Jacob Collier’s recording. Collier respectfully declined because he used to always have a full creative control out of everything he produced. They remain good friends and Collier is also glad to find a mentor in him.

As a producer myself, having great teachers both formally and informally have equipped me with so much knowledge, experience and wisdom that is not so far from Boulanger’s advice to Quincy Jones. When she said that our music will never be less or more than we are as a person, I found that it’s never far from the truth. My music expands as I keep growing to become a better version of myself.

Getting rid of all the negative thoughts and emotion has led me to become better at producing music. And knowing how to become a better friend also helps me a lot in writing music that I never even have thought before.

And just like Nadia Boulanger, I also learned that I have to limit myself from doing too many things to be able to do even more, to continue spreading inspirations that I absorb with whatever I’m doing in life.

Growing up reading so many stories, I always admire people who are able to quickly adapt to different situations and make the best out of what they have. And that includes musicians like Quincy Jones who is involved in a wide range of musical genres. But one thing for sure: to be able to branch out, we need to be deeply rooted on a certain value.

Looking forward, I don’t really know where I’m going to go next. But one thing for sure, I know that I will enjoy everything that comes, because I will keep on trying to become a better person for everyone that matters the most.



I’m convinced that I won’t ever be happy or become enough for everyone. But I also learned that happiness is not a destination. If there is more to life than the pursuit of happiness, then it’s the search for meaning.

On the other hand, I am also convinced that my existence is not meaningless. Yes I know that all lives in the universe don’t have to have a meaning at all. But self worth is not something we beg from the others. It is not the acceptance from other people. It is the concept and appreciation that we have and give to ourselves for everything we achieve.

We do what we do because we feel good doing it. For some people it could be their day to day jobs or hobbies or taking care of their families or pets. For me it’s making music.

Making music on my laptop is somewhat an egocentric activity. But so is reading books, watching movies or drinking our coffee. We call it catharsis, which means something we do to relief ourselves from repressed emotions. But when I share this music to the others, just like letting other people eat the food that we cooked, it’s no longer an egocentric activity. We want to feel connected to the outer world.

I am quite hard on myself everytime I make music. I want to give to the world something that is uniquely me, even though it’s only in a little minor detail. I want to add something new to the long history of music with all its masterpieces from the past, not only repeating what the others do or already did.

But I know so well that when my music is out there, I no longer have any options but to let a piece of myself layed bare for others to enjoy AND to judge. And with my own self, I am trying as good as it is possible to accept the fact that I won’t be able to impress everyone.

I want to make better music and I want to become a better person. And it is very easy to lose grip when we always compare ourselves to the others. I know how depression feels like and it’s mostly because of this.

The feeling that we won’t ever be enough for someone else is something that we have to accept. But losing sight of our own self worth is the fastest way into a powerless state of mind, and that’s how depression slips in.

There is no easy way into self acceptance. So happiness is never a destination, instead it’s in the way we prove to ourselves, not to the others, that we can reach higher and better in whatever we feel we can do our best at.


Beberapa minggu belakangan ini gue banyak nulis partitur orkes untuk aransemen ulang/transkripsi lagu2 cover untuk dimainin orkes. Nah gue mulai membiasakan diri untuk selalu nulis nama tiap pencipta lagunya di sebelah kanan atas halaman pertama partiturnya.

Hampir semua lagu Barat itu mudah cari keterangan siapa aja nama pencipta lagu, termasuk apakah lagu itu uda direkam oleh beberapa artis. Misalnya lagunya Michael Jackson “Love Never Felt So Good” itu ditulis oleh Michael Jackson dan Paul Anka. Pasti dikit yang tau ini deh.

Tapi memang lumayan susah nyari nama pencipta lagu Indonesia di Google, harus ngubek-ngubek sampe ketemu website yang nulis nama mereka. Untungnya beberapa musisi yang ternama ada Wikipedia page-nya dan tercatat di situ karya mereka ada lagu apa aja. Namun kebanyakan yang gue temui adalah blog-blog yang cantumin lirik lagu2 ini atau bahas tentang liriknya, tapi mereka bahkan gak tulis siapa penciptanya.

Waktu itu pernah ada temen gue, Aldri (bassistnya Samsons) yang kerja di Massive Music Publishing yang pernah kasi tunjuk suatu website yang fungsinya jadi semacam search engine lagu-lagu Indonesia, jadi bisa tau suatu lagu itu penciptanya siapa, uda direkam oleh siapa aja. Sebenernya ini juga website yg dibikin beberapa music publishing Malaysia yang punya database puluhan (mungkin ratusan) ribu lagu Malaysia, Indonesia ataupun lagu Barat (dan mungkin juga Mandarin) yang beredar di sana. http://www.macp.com.my alamat web nya, ada menu Work Search lalu bisa tinggal input deh judul atau nama artisnya.

Lucu ya, lagu-lagu Indonesia segitu banyaknya yang beredar di sana (dan banyak direkam ulang artis mereka) sampai mereka yang sediakan fasilitas ini karena kebutuhan mereka yang tinggi sekali.

Ada beberapa temen gue yang bekerja di bidang music publishing ini dan cerita-cerita mereka itu bagi gue seru banget dan inspiratif. Nanti gue bagi-bagi lagi di tulisan selanjutnya 😁

Dansa Bandung Philharmonic Orchestra

Konser bertema “Dance” tadi malam oleh Bandung Philharmonic Orchestra bener2 membuka mata akan suatu khazanah orkestra yang selama ini ternyata baru gue kenali hanya sebagian kecil aja. Dengan repertoar yang sebenernya cukup standar di antara koleksi rekaman2 orkestra, ternyata masih ada banyak sekali sisi musikal yang masih bisa digarap oleh konduktor Robert Nordling, yang membuat semua karya itu terasa baru sama sekali buat penontonnya, setidaknya bagi gue pribadi.

Orkestra ini bisa terbilang masih sangat muda di kancah musik orkestra Indonesia. Namun keingintahuan gue akan orkestra ini akhirnya terpuaskan setelah perjalanan 3,5 jam ke Bandung untuk jadi saksi mata secara langsung pengalaman musikal yang mereka alami bersama Nordling selama 2 tahun ini.

Musik dan tari memang tak terpisahkan. Tari tanpa musik seakan menjadi kegiatan olahraga, sedangkan musik tanpa tarian menjadi entitas yang tak usai karena memang musik menggerakkan kita yang mendengarnya.

Berbagai jenis musik yang ditulis dengan motivasi mengiringi suatu pertunjukan tari atau terinspirasi bentuk-bentuk tari pergaulan dimainkan malam tadi. Ada suita dari balet “Swan Lake” karya Tchaikovsky yang dimainkan komplit, ada juga cuplikan dari balet “Firebird” karya Stravinsky, “Concerto for Violin and Oboe in C minor, BWV 1060” karya Bach, “Pavane for A Dead Princess” karya Ravel, ada juga “Suvenir dari Minangkabau” karya komponis muda Arya Pugala Kitti pemenang sayembara komposisi Bandung Philharmonic yang malam ini dipentaskan perdana, lalu juga ada “Blue Danube Waltz” yang notabene gak pernah bener2 gue sukai kecuali ketika dimainin tadi malam karena penggarapan yang sangat detil dan sangat menghidupkannya! Tak lupa mereka juga siapkan encore “Hoedown” karya Copland dari balet “Rodeo”.

Sayangnya gue belum sempet nonton proses latihan mereka. Namun dari tariannya, Nordling membuka mata gue bahwa mengaba suatu orkestra dengan efektif dan efisien itu tak sekadar hanya lewat mengkomunikasikan ide musikal secara verbal dengan jelas, namun juga lewat energi dan bahasa tubuh yang tepat.

Ketike gue menemukan bahwa gue bisa menularkan energi itu kepada para musisi, musik yang dihasilkan pun akan sesuai dengan energi yang gue minta dari mereka. Namun masih sulit bagi gue untuk gak ngos-ngosan setelah setiap latihan dan pentas karena gue mengeluarkan energi itu dengan tidak efisien. Dirigen-dirigen terdepan dunia sangat menguasai teknik mereka dan bisa menerapkannya dengan sangat effortless, tak terkecuali Nordling. Gue bisa melihat bahwa setiap ayunan dan gerak-geriknya sangat sederhana namun bisa sangat jelas menunjukkan detil2 yang ia minta dari para musisinya. Nyaris gak ada bedanya dengan Tai Chi. Elegan, dinamis, berwibawa, namun terutama sangat persuasif dan menginspirasi!

Memang tingkat kepercayaan diri dan penguasaan instrumen setiap solisnya belum merata di orkes ini. Hal itu terasa ketika beberapa principal di seksi gesek memainkan solo di beberapa bagian, intonasi dan proyeksi suaranya sudah terasa solo namun belum cukup keluar memenuhi ruangan aula. Untungnya hal itu tidak terjadi di seksi tiup, setiap solo dieksekusi dengan mantap. Di sisi lain ternyata standar yang ditetapkan pada saat audisi telah menyeleksi musisi-musisi yang lebih mengedepankan kemampuan bermain secara ensembel. Terbukti setiap frase yang dibangun bisa bernafas dan berbicara secara kompak kepada penonton.

Solis Lidya Evania dan Arjuna Bagaskara memiliki rekam jejak dan jam terbang yang cukup tinggi di beberapa panggung internasional. Dan lewat permainan mereka di Double Concerto itu, penonton dihipnotis oleh penguasaan mereka yang tak cuma sangat tinggi akan karya Bach itu, tapi juga lewat liukan dan alunan frase mereka yang terkadang elegan, terkadang sangar bisa berdansa satu sama lain dan juga dengan para musisi orkestra yang lainnya. Yuty Lauda pun tak hanya merespon dan menjaga keutuhan tempo namun juga menyatukan permainan kedua solis ini dengan segenap seksi gesek lewat permainan harpsichord-nya.

Ada Rama Widi yang malam ini bukan diundang sebagai solis namun sebagai bagian dari ensembel. Sama seperti setiap instrumen lainnya di orkestra ini tak ada yang luput dari giliran mendapat sorotan, terutama kehadiran Rama pun selalu terasa kuat di setiap petikannya. Hal yang belum cukup umum namun seharusnya bisa dihasilkan oleh setiap pemain harpa orkestra di Indonesia – setidaknya yang sejauh ini sering gue tonton – yang biasanya cukup tertimbun di balik tebalnya bebunyian puluhan musisi lain.

Selain itu pada bassoon dan seksi tiup logam ada beberapa musisi tamu dari Singapura, Thailand dan Belanda yang sangat bisa mengajak rekan-rekannya musisi lokal kita untuk menghasilkan tone simfonik yang memang masih jarang tereksekusi semantap itu di sini. Gue yakin pengalaman bermain orkes dengan mereka yang lebih berpengalaman akan memudahkan kita menguasai bahasa musikal itu untuk kemudian bisa kita tularkan lagi kepada yang lebih junior selanjutnya. Ada harapan yang semakin cerah di kemudian hari bagi perkembangan orkes nasional kini dengan sistem mentoring semacam ini.

Entah sejak kapan Bandung Philharmonic menggunakan instalasi reflektor untuk keperluan proyeksi suara orkestranya di Teater Tertutup Dago Tea House ini. Tapi dengan sangat terbatasnya ketersediaan gedung pertunjukan yang ramah akustik bagi suatu konser orkestra, hal ini menjadi sangat penting bagi mereka supaya energi yang mereka pancarkan bisa lebih efisien tersampaikan kepada penonton, tak terserap terlalu banyak oleh bahan pengedap suara di gedungnya maupun terpantul terlalu banyak di tembok. Salah satu strategi yang sangat manjur mereka terapkan!

Konser ini didukung tak hanya oleh Badan Ekonomi Kreatif Nasional, tapi juga sponsor-sponsor swasta dan pemerintahan serta puluhan donatur pribadi sehingga program orkestra ini bisa terus berjalan dan berkembang. Memang suatu orkestra adalah milik bersama antara para musisi, pihak manajemen dan masyarakatnya sendiri. Semakin maju masyarakatnya, semakin maju pula perkembangan kebudayaannya. Dengan harga tiket yang tidak terlalu murah namun masih sangat terjangkau, ternyata sajian musikal malam ini masih sangat dicari oleh masyarakat Bandung dan sekitarnya yang terus memenuhi kursi penonton hingga akhir konser.

Komplit sudah tarian tadi malam dipertunjukkan sangat menggugah oleh konduktornya, oleh para musisi, juga oleh sinergi yang sangat menginspirasi dari para penyelenggara dan para penontonnya yang sangat apresiatif. Terima kasih dan salut banget kepada publik Bandung yang terus-menerus menciptakan ekosistem yang bisa menghasilkan musisi-musisi top tanah air dari berbagai genre musik!

Gue cuma keluar Rp 150.000 untuk tiket konser ini namun batin gue semakin kaya sepulangnya :’)

Celtic Room, the Happiness Room

Hari ini Forteboy Music bikin kolaborasi yang bener2 bikin hepi banget bareng Celtic Room. Mereka itu suatu grup musik yang sangat unik, gak cuma jenis musiknya dan alat2 musiknya yang dimainin, tapi anggotanya bisa siapa aja karena mereka ini berbasis komunitas. Sangat inklusif dan siapapun yang tertarik ikut main tinggal dateng aja bawa instrumennya.

Celtic Room ini dimotori oleh Rio Herwindo. Dia ini pemain biola yang gue kenal uda hampir 1 dekade, dan selama sekitar 5-6 tahun belakangan ini dia mendalami musik India dan Irlandia dengan biolanya. Cengkok2 dan nafas musik rakyat di dua budaya ini uda dia selami dengan serius dan dia sendiri uda bikin lumayan banyak komposisi baru dengan gaya musik yang eklektik, terinspirasi warna-warna budaya yang beragam!

Nah, spirit seperti itu yang nular ke komunitas temen2nya, terutama di Celtic Room. Hampir semua anggota inti Celtic Room ini bisa main lebih dari 2 alat musik! Semuanya alat akustik dan mereka bisa main di mana pun, termasuk kalo gak ada sound system, namun tetap selalu meninggalkan senyuman di pendengarnya!

Kebahagiaan dan ketulusan mereka bener2 tersalurkan tanpa filter ke penonton maupun ke semua pemain yang ikut ngejam sama mereka. Ini yang bikin mereka ini sangat spesial. Dan akibatnya, mereka memiliki gravitasi yang sangat kuat untuk menarik semakin banyak lagi teman2 baru dan musisi2 yang sama-sama punya ketertarikan akan percampuran budaya seperti yang mereka lakukan dalam musiknya.

Pada akhirnya, apa yang mereka lakukan dan bagikan adalah hal utama yang membuat kita suka musik: kebahagiaan. Kita pengen dengerin dan nonton pertunjukan musik karena kita pengen merasakan kebahagiaan itu. Kita seneng liat orang yang main musik, ya karena itu bikin kita seneng. Kita jadi penasaran dan pengen nyoba main alat musik karena kita pengen rasain kesenangannya. Kita enjoy sesuatu karena sesuatu itu bikin kita joyful. Sesederhana itu 😊

Gue selalu nambah temen baru setiap kali gue dateng ke pertunjukan musik mereka, baik yang profesinya memang musisi maupun musisi hobi, semuanya passionate banget akan musik! Lewat Rio, gue jadi kenal Stella, pemain piano, concertina (semacam akordeon kecil dari Inggris), bodhran (perkusi Irlandia), yang sekaligus ahli angklung(!). Lalu ada lagi Dedi yang main biola, viola, cello, juga tin whistle (suling Irlandia yg dimainin Andrea Corr itu loh). Ada Kahfi yang jago buanget main tabla (perkusi India) di jenis musik apapun. Ada Rivelino, penggila Radiohead yang asik banget main akordeon dan Uillean Pipes (semacam bagpipe dari Irlandia), dia juga seorang komposer yang juga entah mainin berapa banyak instrumen lainnya lagi. Ada Patrick, Billy, Cesar, Mas Arief yang sering main gitar dan banjo bareng mereka. Ada Bang Markus seorang etnomusikolog yang bisa mainin puluhan sampai ratusan alat tiup dari penjuru2 Nusantara juga Cina dan Indian Amerika, pada saat bersamaan dia juga ngulik banget alat petik Batak dan Kalimantan.

Kembali ke kolaborasi sore tadi dengan mereka. Gue selalu memendam keinginan untuk ajak mereka main salah satu lagu yang gue tulis, judulnya "Home is Where the Heart is". Dan impian ini terwujud tadi sore. Lagu ini terinspirasi banget oleh musik Irlandia, terutama gue tulis sepulang dari nonton The Hobbits episode 1, di mana para Dwarves nyanyi lagu "Far Over the Misty Mountains" di adegan penutupnya. Lagu ini udah pernah gue rekam dgn versi instrumental (ada di http://bit.ly/2vNU6X9), juga versi dengan vokal, yang liriknya gue tulis bareng Boy Marpaung dan Clarasia Kiky (belum gue publikasi di mana2 hehe). Asik banget gabungin string section dengan akordeon, suling Batak, Bodhran dan Tabla yang mereka mainin, lalu amat sangat dipercantik oleh merdunya nyanyian Marini Nainggolan yang sangat jernih!

Beberapa tahun lalu Rio sempat merekam lagu instrumentalnya yang berjudul "Song for V" di studio lama gue di Kelapa Gading. Saat itulah gue ketemu dengan Kahfi dan tablanya, dan saat itu Rio main biola dan mandolin di lagunya yang kental dengan warna musik India itu. Gue pikir, asik banget kalau gue bisa garap aransemen untuk lagu ini. Ternyata Rio punya lagu lain yang lebih cocok berdampingan dengan lagu Home tadi, yaitu "All You Need is Love" yang sangat syahdu. Dia tunjukin lagunya dan gue seketika langsung jatuh cinta! Semua temen yang gue tunjukin lagu ini pun juga sekali denger langsung suka banget sama lagu ini!

Akibatnya, gak sulit sama sekali buat gue nyari ide aransemennya. Lagu ini bener2 langsung memancing inspirasi ketika gue nulis not demi not dalam aransemennya. Gue tambahin bagian2 yang bisa makin mengentalkan warna Indianya, tapi sekaligus gue bisa kepikir harmoni, counter-melody dan ritme2 yang bisa makin ngeluarin sisi syahdunya lagu ini.

Gue hepi banget karena Dika Chasmala dan Billy Aryo pun juga mau ikut main di string section rekaman hari ini, karena gue jadi tau bahwa gue bisa kasi mereka aransemen yang lumayan menantang tanpa ada kekuatiran apapun 😁

Lalu sebagai penutup, gue ngajak temen2 Celtic Room untuk ngejam bareng lagu folk Irlandia. Rio pilih lagu "Party on Third Class", yang muncul di film Titanic (Leo diCaprio masih semuda Justin Bieber!). Nah, di sesi yang terakhir inilah semua musisi main dengan sangat lepas, termasuk temen2 Celtic Room yang sering ngejam bareng mereka (yang belum ikutan main di 2 lagu sebelumnya tadi). Bener2 kerasa enjoyment dalam bermusik bareng mereka ini, gak ada judgement, gak ada asumsi, gak ada eksklusivitas, semua emosi yang terbentuk hanyalah JOY!

Akhirnya semua pulang dengan membawa senyum bahagia dan kerut sisa tawa lepas, sambil kami menyampaikan sampai jumpa kembali kepada Rio dan Stella, dengan segala harap akan kebahagiaan bagi mereka di Bali nanti.

Tenkyu berats juga buat Aria Prayogi yang uda jadi juru rekam audio dan sekaligus ikut main sitar elektrik di lagu "All You Need is Love", juga Abrian yang mengabadikan momen spesial bersama Celtic Room tadi sore di kantor Anatman Pictures!

Video akan dirilis di Youtube channel Forteboy Music segera! (Nunggu giliran video2 lain yang uda kami rekam bulan lalu dulu yaa 😁)

My Musical Credo

Pharrell once said that he is only as good as his collaborators, and I hold that true as well. As a producer I always aspire to absorb as much personality and thoughts from my artists and then build a musical portrait of them so that our synergy can make 1+1=3 possible 🙂
I enjoy working with various talents because by doing so I learn so much from them. I learn from their experiences, ideals, dreams, anxieties and knowledge no matter what genre/gender/cultural background they come from. And all of these experiences working with them only make it clear to me that we are all the same: we all want to be UNDERSTOOD, we all want to be CONNECTED.
I make music to connect with people. That is my deepest need in life, as well the strongest force that keeps me alive and drives me forward 🙂

Masa Depan Industri Musik Sudah Berjalan (Selama Beberapa Tahun)

Tabel di atas adalah gambaran mengenai peningkatan porsi penghasilan industri musik Amrik dari layanan music streaming meningkat 23% dalam waktu 6 bulan, dan skrg penghasilan dari streaming itu gak bisa dipandang sebelah mata lagi. 

Hasil dari penjualan fisik (misal cd) dan penjualan online (misal iTunes) pun juga masih menjadi sumber yg utama, dengan penghasilan dari sync licensing (misal lagu seorang artis digunakan utk kepentingan film/iklan/sejenisnya) dan penghasilan dari ringtone/ringbacktone masih bertahan jadi sumber alternatif. 

Silakan simak artikel ini: http://blog.discmakers.com/2016/01/music-streaming-2016-current-streaming-landscape/

Jadi kalau memang target pasarnya bukan lagi end usernya langsung (baca: fansnya), setidaknya ada banyak sekali pihak yg membutuhkan musik dalam menjalankan bisnisnya, dan di era teknologi skrg, keberadaan mereka2 inilah yg lbh gampang diukur lewat analisa data, utk kemudian diterjemahkan menjadi uang atau kemungkinan monetisasi lainnya. 

Perusahaan IT seperti Gojek bisa bernilai triliunan rupiah, utamanya bukan dari transaksi pelanggan, tapi dari bagaimana mereka mengolah data yg dikumpulkannya. 

Now is the future 😇

Menengok Musik dari Seberang Lautan

OPM itu singkatan dari Original Philippines Music, sebutan mereka untuk musik karya anak negeri mereka. ABS-CBN adalah jaringan televisi nasional pertama di Asia Tenggara (mengudara sejak 1953) dan mereka membentuk orkestra pops ini sejak 2012 dengan Gerard Salonga (kakak dari vokalis Filipina kelas internasional, Lea Salonga) sebagai konduktor dan pengarah musiknya. 
Album debut mereka ini berisi kumpulan lagu pop Filipina dari beragam era, dan menunjukkan kelas mereka sebagai salah satu orkestra pops terbaik di negerinya. Selama di sana pun gue terkesima banget oleh kualitas pemain brass section-nya yang bener2 nampol, bahkan waktu jalan2 ke salah satu mall ada brass band keliling mall dan main lagu2 macem Uptown Funk, Payphone dsb dengan sound yang penuh bgt tanpa mic dan tanpa partitur(!)

Lagu2 di album ini diaransemen oleh beberapa arranger top Filipina, termasuk konduktor Gerard Salonga sendiri. Bagi gue, penyanyi2 Filipina itu kuat banget baik dari segi teknik maupun warna suara dan ekspresinya. Eksistensi Lea Salonga di banyak pentas Broadway dan di beberapa produksi animasi Disney ternyata memungkinkan karakter penyanyi2 lirikal seperti ini yang banyak bermunculan di Filipina. 

Sayangnya gue mengharapkan lebih banyak lagu bertempo sedang dan cepat dalam album ini, tapi kebanyakan lagu ballad yang dipilih oleh “Kuya” Gerard selaku produser albumnya. 

Ini tantangan untuk para pelaku orkestra di Indonesia untuk bisa menghasilkan rekaman yang berada di standar internasional tanpa harus melulu bergantung pada orkestra impor, dan gue percaya kita sedang menuju sana. 

Manila itu sama sekali bukan kota yang lebih rapi dari Jakarta, justru agak sebaliknya. Masa iya kita mau kalah sama mereka dalam bidang kultural? 🙂

Rant for Myself

I’m at the most exciting stage of my life right now, but why do I still feel hollow? I took vacations, I watched very good movies, I read nice books and I have great friends all around, but why do I easily get bored? It’s like a constant fight everyday with my own laziness or ego or whatever it is. 

I do feel grateful with my life, but I always want something more. I always want more but it doesn’t make me a more diligent person.

The world seems so vast, too wide for me not to explore it all, but somehow I just stand where I am, not willing to take further steps toward my goals and dreams. Even when I’m hungry I hesitate to go outside my home and get myself good food or even just a good sip of coffee.

I dare myself to dream, but it will only be a dream if I don’t let myself get lost in the seas of possibilities out there.

So for now, I’m gonna take a shower for a start then..

CNY, 2014