“Your music is never less or more than you are as a person” – Nadia Boulanger


Look up for Nadia Boulanger on the internet, she was a really amazing woman! After graduating from Paris Conservatoire, she admitted that she didn’t have sufficient talent to be a composer, but yet she was a teacher of a whole generation of 20th century composers and classical music icons.

Among her students are notable composers Aaron Copland, Elliot Carter, Walter Piston (who wrote a handbook on orchestration!), Darius Milhaud, Philip Glass, Astor Piazzolla, even also Lalo Schifrin (who wrote that iconic theme for Mission: Impossible!), Burt Bacharach, Daniel Barenboim and also Quincy Jones.

Now Quincy Jones’ career in the popular music realm spans from the golden era of big band jazz (he worked as an arranger/conductor for Dizzy Gillespie, Sarah Vaughan, even Frank Sinatra), composed for movies and of course we have to mention his works with Michael Jackson before he went on to work with so many great musicians of the younger generation.

Back to Nadia Boulanger. There was a story about George Gershwin applying to study with her during his stay in Paris. Boulanger declined to teach this young man who was already making a name out of his exhaustive list of jazz numbers and jazz-classical crossover compositions. Not also Boulanger, even Maurice Ravel and Arnold Schoenberg also rejected to become his tutors because they could already see that Gershwin already had his own voice in his music!

Fast forward to the 21st century, Quincy Jones once offered to produce Jacob Collier’s recording. Collier respectfully declined because he used to always have a full creative control out of everything he produced. They remain good friends and Collier is also glad to find a mentor in him.

As a producer myself, having great teachers both formally and informally have equipped me with so much knowledge, experience and wisdom that is not so far from Boulanger’s advice to Quincy Jones. When she said that our music will never be less or more than we are as a person, I found that it’s never far from the truth. My music expands as I keep growing to become a better version of myself.

Getting rid of all the negative thoughts and emotion has led me to become better at producing music. And knowing how to become a better friend also helps me a lot in writing music that I never even have thought before.

And just like Nadia Boulanger, I also learned that I have to limit myself from doing too many things to be able to do even more, to continue spreading inspirations that I absorb with whatever I’m doing in life.

Growing up reading so many stories, I always admire people who are able to quickly adapt to different situations and make the best out of what they have. And that includes musicians like Quincy Jones who is involved in a wide range of musical genres. But one thing for sure: to be able to branch out, we need to be deeply rooted on a certain value.

Looking forward, I don’t really know where I’m going to go next. But one thing for sure, I know that I will enjoy everything that comes, because I will keep on trying to become a better person for everyone that matters the most.


Ekspresi, Inspirasi

Semua yang kita lakukan adalah ekspresi dari apa yang kita rasakan dari segala informasi yang kita tangkap. Bentuk ekspresinya bisa macem-macem dan gak terhingga, bisa berupa karya seni ataupun sesimpel cara dandan. Bisa juga berupa masakan atau sekumpulan tanaman di kebun yang kita rawat. Kalo gue bisa ngegambar atau ngelukis, mungkin juga akan gue lakukan walau pasti hasilnya hanya akan disimpan sendiri, begitu pula kalo gue bisa bernyanyi (tapi nyatanya kagak).

Mungkin ada orang2 yang gak menganggap mengekspresikan dirinya itu sepenting itu, tapi setidaknya bagi sebagian orang lainnya ekspresi ini tinggi sekali urgensinya supaya bisa mempertahankan tingkat kewarasan tertentu. Ya, seperti gue inilah salah satu contohnya.

Memang masing2 dari kita suatu saat akan mencapai momen di mana kita sanggup menyadari kapan bisa leluasa mengekspresikan diri, juga kapan ekspresi itu kurang diharapkan oleh sekitar. Namun selama bentuk ekspresi itu tidak merugikan orang lain, bahkan sebaliknya bisa mengakibatkan pertanyaan2 baru dan memberi inspirasi positif, kenapa menahan diri dengan kekuatiran?

Impresi dan ekspresi akan selalu silih berganti membuat hidup kita makin terasa lebih berarti. Dan tiap orang yang memiliki alasan di balik segala pikiran dan tindakannya telah membantu dirinya sendiri untuk berjalan ke suatu arah, walaupun arah itu bukanlah suatu harga mati, karena kita pun akan terus terinspirasi.

Mirip dengan arti kata respirasi, yaitu pernafasan, “to inspire” juga mengandung arti menghirup nafas. Setiap nafas yang kita hirup akan disusul oleh hembusan keluar dan demikian seterusnya. Begitu pula dengan inspirasi, kita harus terus menghirup ke dalam dan menghembuskannya ke luar supaya bisa terus hidup.

Met sore dan selamat menikmati hidupmu!

23 Juni 2014


Somebody told me that we can’t choose to whom we’d fall in love with. But I’d say we can always choose to whom we’d stay in love with.

Otherwise we would fall in love too many times for too much wrong people.

It’s not that it’s wrong to fall in love, but having several experiences with love before, we tend to build walls to protect ourselves from the outside world. It’s encoded in our DNA to stay safe from anything that might hurt us.

There are just so many amazing new people in my life that I’m so grateful for. These are inspiring people whose fire within burns inside me as well.

I have been in both places:

Denying to see infatuation as my guide;

or diving into it head over heels and embrace it so tight, no matter the consequences.

I have been both a brave and a coward.

But only lately I found that I might have done all the things in the name of love to actualize myself. I was looking to find myself in the relationships I had. Sometimes I became so excited and sometimes I became so terrified of what I found within me.

I asked too many questions, but I can’t NOT do that. I can’t afford to just go anywhere the wind blows. And if the journey take long because I was going against the wind, I don’t mind. And if I don’t get to where I wanted to be, I don’t mind either. At least I know that I’m enjoying all the journey.

I would summarize this by the lyrics from The Beatles’ last recorded album:

“And in the end

the love you take is equal to the love you make”

Bali Journey 1

Selalu menyenangkan main musik bareng Rio Herwindo dan Stella Paulina, apalagi sekarang mereka bikin Celtic Room Bali dan makin berkembang dgn chemistry antar musisi yang kerasa seger banget! Gue dan Andika Candra tadi ikutan mampir gabung sesi latihan terbuka yang sering mereka adain tiap minggu di tempat yang berbeda2.

Grup musik berbasis komunitas seperti yang juga mereka bentuk seperti di Celtic Room Jakarta ini memang punya keunikannya sendiri. Gak seperti grup musik ensembel atau band pada umumnya, dengan konsep seperti ini sebenernya mereka memberi secara langsung kepada masyarakat sekitarnya, entah mereka jadi bisa langsung ikut nikmati aja atau juga secara aktif ikut main musik2 Irlandia.

Bali sebagai jendela Indonesia terhadap komunitas internasional memang memudahkan musisi seperti mereka ini untuk gak hanya mendapat apresiasi yang lebih besar daripada di Jakarta, tapi juga untuk berkembang secara musik maupun secara kultural. Ada beberapa musisi non lokal yang juga rutin ikut latihan dan tampil bareng mereka, salah satunya teman baru gue, Margaret Denmead dari Irlandia yang ikut main gitar, bernyanyi, juga bermain Bodhran.

Pertukaran budaya dan informasi sangat mudah terjadi di Bali, terutama karena lewat musik bisa terjalin perkenalan dan pertemanan yang lebih menyenangkan dengan orang-orang baru.

2 minggu di sini, setiap hari dipenuhi dengan musik. Ditambah dengan langit biru dan alam yang terasa sangat dekat dengan keseharian, gue bisa bilang bahwa musik lebih bisa dinikmati di sini.

Masih ada seminggu lagi untuk dinikmati, semoga gue bisa meneruskan segala energi positif yang telah gue terima dari setiap perjumpaan dengan alam dan dengan teman-teman di sini. Semoga gue bisa terus memelihara kedamaian dalam diri lewat memberikan diri gue terhadap sekitar.


Music took me to places and faces familiar and anew, keep me finding joy and sorrow as inseparable parts of the journey.

It has been a year of bold and crazy decisions I never knew I am capable of, a time when I learned so much more about my own anxiety when I made new acquaintances and lost important ones along the way, both physically and mentally.

I might not become the best of friend for so many people this year, and I might not seem to really care if I could be one. I remember all the kindness I’ve received, and I’m grateful for all that.

But the most important lesson of 2018 is that I stopped forcing the others to walk alongside me, and I stopped myself trying to convince anyone of my own importance. I am not important and nobody owes me their kindness, and I am the most responsible for my own well being. I own my mistakes and I am willing to get up again to face all the consequences I might have been running away from.

So when we look forward to greet the new year, we are also saying goodbye to the ups and downs that made us who we are today. Hopefully I can still learn to give more than I receive in the following year.

Thank you families and friends, I hope you enjoy the spectacle so far


I’m convinced that I won’t ever be happy or become enough for everyone. But I also learned that happiness is not a destination. If there is more to life than the pursuit of happiness, then it’s the search for meaning.

On the other hand, I am also convinced that my existence is not meaningless. Yes I know that all lives in the universe don’t have to have a meaning at all. But self worth is not something we beg from the others. It is not the acceptance from other people. It is the concept and appreciation that we have and give to ourselves for everything we achieve.

We do what we do because we feel good doing it. For some people it could be their day to day jobs or hobbies or taking care of their families or pets. For me it’s making music.

Making music on my laptop is somewhat an egocentric activity. But so is reading books, watching movies or drinking our coffee. We call it catharsis, which means something we do to relief ourselves from repressed emotions. But when I share this music to the others, just like letting other people eat the food that we cooked, it’s no longer an egocentric activity. We want to feel connected to the outer world.

I am quite hard on myself everytime I make music. I want to give to the world something that is uniquely me, even though it’s only in a little minor detail. I want to add something new to the long history of music with all its masterpieces from the past, not only repeating what the others do or already did.

But I know so well that when my music is out there, I no longer have any options but to let a piece of myself layed bare for others to enjoy AND to judge. And with my own self, I am trying as good as it is possible to accept the fact that I won’t be able to impress everyone.

I want to make better music and I want to become a better person. And it is very easy to lose grip when we always compare ourselves to the others. I know how depression feels like and it’s mostly because of this.

The feeling that we won’t ever be enough for someone else is something that we have to accept. But losing sight of our own self worth is the fastest way into a powerless state of mind, and that’s how depression slips in.

There is no easy way into self acceptance. So happiness is never a destination, instead it’s in the way we prove to ourselves, not to the others, that we can reach higher and better in whatever we feel we can do our best at.


Setiap orang butuh membuang sampah emosi sama seperti kita butuh ke toilet setiap hari, karena itu bisa menjadi racun kalau disimpan terus-menerus.

Media sosial mungkin bukan sarana yang benar-benar efektif karena kita belum tentu nyaman menunjukkan sisi-sisi terburuk kita di hadapan audiens yang tak bisa kita saring. Akan selalu ada sisi kepribadian yang bisa kita buka lebar-lebar ke hadapan dunia dan ada sisi yang lebih privat, lebih dalam dan mungkin lebih gelap yang hanya bisa kita buka kepada orang-orang tertentu. Memang ada fitur Close Friends Only, namun curhat kepada orang-orang terdekat yang bisa dipercaya lebih efektif.

Memiliki orang-orang terdekat seperti ini bisa jadi merupakan kemewahan bagi banyak orang, gak semua dari kita memilikinya. Gak semua dari kita memiliki orang yang bisa tetap memaklumi dan menyayangi kita apa adanya, dan memang gak satu orang pun sebenarnya punya kewajiban itu.

Karenanya kalau kita memiliki teman dan keluarga yang seperti ini, jaga mereka baik-baik, jangan kecewakan atau sakiti mereka dengan sengaja, karena merekalah orang-orang yang mampu menyelamatkan kita. Semoga kita pun juga merasa bertanggung jawab untuk bisa menyelamatkan mereka. •

Memang kita gak akan bisa mengontrol seluruh perasaan mereka, apakah mereka tersakiti oleh satu pun tindakan/ucapan kita, namun setidaknya jangan pernah sakiti mereka dengan sengaja, supaya kepercayaan yang dibangun bisa selalu menjadi pelindung jiwa kita dan mereka.

Gue beruntung memiliki orang-orang yang menyayangi gue tanpa syarat. Dan sebagai gantinya gue berusaha selalu ada bagi mereka ataupun bagi teman-teman lain yang belum terlalu dekat hubungannya. Pay it forward!

Kedamaian ternyata harus selalu diupayakan lewat peperangan yang kuat melawan diri kita sendiri. Bila kita menyayangi orang lain, semoga kita bisa mengalahkan ego kita sendiri supaya bisa terus menyayangi mereka. Untuk hal ini pun gue masih terus belajar caranya.

Dan untuk semua ini gue berterima kasih kepada kalian, yang menopang gue supaya bisa terus bertumbuh, seteguh dan seteduh pohon 🙂


Pain makes us human, that’s why many of us get so addicted to it, including myself. Sometimes we’re so addicted to it that we want to believe we don’t deserve happiness.

We fall in and out of love, our path may cross with people, sometimes they stay but more often their paths lead to different directions.

There are times when we convince ourselves that things were not the way we wanted because of our fault. There are also times when we couldn’t help but put the blame on others.

But no matter what, the earth still revolves around the sun, and the sun revolves around the black hole at the center of the milky way. Stars and planets collide and explode all the time, but still new galaxies are being born everyday somewhere in the universe.

In our irrelevancies, we want to feel that our lives matter to those we love. In fact it matters. Our hopes and dreams are what keeping us alive. And when we’re gone, hopefully we’d die happy, knowing that we did our best so far.

Good night and may we all live a good life, a meaningful one 🙂


Pohon ini adalah pohon yang ada di tengah-tengah RS Carolus, tempat mendiang Mama dirawat hingga garis akhir pertandingan hidupnya. Ketika itu ada rasa pasrah yang luar biasa, dan gue gak yakin apakah gue harus merasa sedih atau kuatir atau apa lagi dengan kondisi beliau yang sudah semakin jarang membuka kelopak matanya.

Sampai suatu pagi setelah terlelap beberapa jam di sana, gue melihat pohon besar ini, begitu anggun sekaligus kokoh berdiri di tengah taman rumah sakit. Seketika kantuk gue sirna dan berganti dengan keteduhan yang mengisi seluruh relung, menggantikan rasa sesak yang tadinya memenuhi dada.

Gue sama sekali bukan orang yang religius, namun sisi spiritual gue terasa mereguk embun segar yang singkirkan dahaga gue akan arti dari semua yang keluarga kami hadapi saat itu. Mama juga bukan orang paling berjiwa besar di muka Bumi ini, namun gue bisa merasakan keteguhannya dalam mengesampingkan banyak cita-cita hidupnya demi masa depan gue dan abang gue.

Sama seperti pohon ini yang entah bibitnya berawal dari daerah mana, gak lagi mempersoalkan di mana ia seharusnya bertumbuh, namun ia memberikan kehidupan gak hanya bagi aneka organisme di taman itu, tapi juga meneduhkan jiwa setiap keluarga pasien yang dirawat di sana.

Semoga gue bisa mendedikasikan hidup gue untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari diri gue sendiri, berikan keteduhan bagi siapapun yang datang dan menyapa jiwa mereka dengan kedamaian.

Selamat Idul Adha bagi kawan-kawan yang merayakan, semua pengorbanan yang kita berikan gak pernah sia-sia karena itu memberikan sedikit demi sedikit makna bagi hidup kita dan bagi hidup orang-orang yang kita sayangi ♥️

Simpul Puitis

Gue merasa beruntung sekali dalam seminggu bisa nonton konser 2 orkestra besar Jakarta, yang satu Jakarta Simfonia Orchestra, satu lagi Jakarta City Philharmonic, dan keduanya memiliki kesan yang mendalam. Kedua konser inilah yang membuat gue makin yakin perkembangan dunia orkestra tanah air menjadi semakin menjanjikan.

Tentang JSO yang hanya memainkan 2 karya simfonik (Mozetich – The Passion of Angels dan Berlioz – Symphonie Fantastique) sudah gue bahas di status Facebook sebelumnya. Tapi yang menarik untuk kembali diungkit adalah bahwa ada beberapa pemain instrumen gesek yang main di kedua konser ini, dan sensitivitas mereka semakin tinggi tak hanya dalam bermain dan mendenyutkan musiknya bersama, tapi juga dalam saling mendengarkan satu sama lain, sehingga setiap musisi bisa memahami fungsi dari bunyi instrumennya masing-masing dalam membentuk anyaman dengan bunyi instrumen-instrumen lainnya.

Konser malam tadi adalah kali pertamanya JCP menjual tiket, dan kali pertamanya mereka hanya menggunakan ensembel gesek dalam pertunjukannya. Ada tantangan yang sangat tinggi dalam menggunakan instrumentasi seperti ini, yaitu bahwa musik yang dihasilkan harus mengantarkan energi yang sama besarnya kepada penonton walau tanpa kehadiran alat-alat tiup dan perkusi. Konsekuensinya, tak hanya dibutuhkan stamina yang tinggi dari para pemain, tapi juga kepekaan yang tinggi dalam mengusahakan setiap divisi instrumen (biola 1, biola 2, viola, cello dan kontrabas) untuk bisa solid secara ritme maupun secara intonasi nada.

Memang masih ada yang bisa disempurnakan di aspek ini, namun hal yang tak kalah pentingnya adalah intensitas dari setiap nada ataupun setiap tanda istirahat yang dibunyikan (dan tidak dibunyikan). Hal ini sangat terasa sejak lagu Indonesia Raya dimainkan sebagai pembuka konser. Baru kali ini gue denger lagu kebangsaan kita ini dimainkan hanya dengan orkestra gesek, dan ternyata justru ada keharuan yang lebih dalam terasa tanpa kehadiran alat tiup dan perkusi, dan penonton bagai disiapkan untuk merasakan kesyahduan konser malam ini.

Tak hanya syahdu, beberapa nomer seperti Serenade karya Edward Elgar dan Divertimento karya Bartok menantang para musisi dan konduktor untuk menghasilkan musik yang menyalak, berjingkat, melompat, juga galak di banyak momen. Tapi terutama di dua nomer terakhir, Serenade karya komponis Swedia, Dag Wiren; dan Adagietto dari Simfoni ke-5 karya Gustav Mahler, konduktor Budi Utomo Prabowo berhasil mengajak para musisi JCP menunjukkan penguasaan interpretasi mereka yang lebih berani lugas dalam artikulasi nada-nadanya, dengan kedalaman musikalitas yang lentur untuk menghasilkan kontras dinamika dan warna yang dibutuhkan di sana-sini.

Memang sebenarnya kalau kelugasan dan kelebaran jangkauan dinamika yang sama bisa dihasilkan di nomer-nomer lainnya – terutama di karya Budhi Ngurah, Tarian Kabut Kintamani, yang banyak mengadaptasi jalinan alat-alat gamelan ke dalam ensembel gesek di dalamnya – pasti akan lebih menguras energi para pemain tapi akan membuat pengalaman konser hari ini lebih tak terlupakan lagi.

Apresiasi tinggi juga perlu dialamatkan kepada para prinsipal, terutama Danny Robertus (biola 1), Obrin Kussoy (viola) dan Ade Sinata (cello) yang mengantarkan porsi-porsi solo mereka dengan sangat memukau dan proporsional, dengan kelenturan warna bunyi yang memungkinkan mereka untuk bisa tetap berbunyi selaras ketika harus kembali berbunyi tutti bersama rekan-rekan divisinya.

Perlu disebutkan juga adalah Vincent Wiguna yang memainkan orgel bambu yang keunikan warna bunyinya berhasil membuat Adagio in g minor karya Albinoni/Giazotto dan Canon in D karya Pachelbel menjadi lebih sejuk tropikal. Juga harpis Carlin Eureka Yasin yang turut mengiringi dengan dinamika dan artikulasi yang pas dalam Adagietto karya Mahler yang banyak menuntut kesigapan akan fluktuasi tempo.

Adagio for Strings karya Samuel Barber sangat pas dipilih sebagai persembahan untuk mengenang mereka yang menjadi korban kekerasan atas kemanusiaan yang terjadi belum lama ini di beberapa tempat di Indonesia. Secara pribadi, gue merasa sebenarnya karya ini bisa lebih lirih lagi dimainkan, terutama di titik klimaks sebelum bagian Coda. Namun tetap tidak menghilangkan kesyahduan yang sama yang ingin dihadirkan JCP malam ini.

Sesuai penjelasan konduktor Budi Utomo Prabowo, tema Simpul dalam konser malam ini memang dirasa cocok mewakili pernyataan sikap JCP sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakatnya. Alat-alat gesek memiliki dawai yang hanya akan bisa dibunyikan jika diregangkan dan diikat dengan simpul di kedua ujungnya. Apa yang kita butuhkan sebagai masyarakat adalah simpul demi simpul yang mampu mengikat individu-individu yang berbeda satu sama lain ini dalam suatu kesamaan. Dan memang kesamaan nasib biasanya memudahkan kita untuk bisa merasa sejajar dengan sesama.

Menutup konser malam ini, JCP memainkan Di Bawah Sinar Bulan Purnama karya penulis lagu R. Maladi yang diaransemen oleh Jozef Cleber – yang juga mengaransemen Indonesia Raya yang membuka konser ini. Secara puitis, karya ini seperti menekankan lagi tentang simpul tadi: kita semua berbagi kehidupan di bawah sinar bulan yang sama pula.

Selamat menjadi (sesama) manusia!